Penilaian Penulis Narasi Program Infotainmen terhadap Subjek Berita

ABSTRAK
Berita sebagai produk jurnalistik seharusnya mengutamakan netralitas dan objetivitas (Kusumaningrat & Kusumaningrat, 2005). Namun demikian, kaidah ini ternyata tidak selalu dipatuhi oleh para jurnalis. Sering didapati bahwa berita yang disajikan mengimplikasikan peniliaian penulis teks terhadap subjek yang diberitakan yang dapat mempengaruhi opini, pembaca, pendengar, atau pemirsa sajian berita itu. Fenomena ini juga terjadi pada program infotainmen yang ditayangkan televisi swasta di Indonesia.
Makalah ini mengkaji netralitas penulis narasi pada program infotainmen di stasiun televisi swasta di Indonesia. Analisis difokuskan pada penilaian penulis terhadap subjek berita. Dalam konsep Linguistik Sistemik Fungsional, peniliaian (judgement) ini merupakan bagian dari afek yang secara dominan ditunjukkan oleh sistem mood, struktur mood, leksis, serta struktur tema-remanya (Martin, 1992; Martin & White, 2005; Santosa, 2003).
Data untuk kajian ini didapatkan dengan merekam dan membuat transkrip program infotainment “Obsesi” yang ditayangkan Global TV. Terdapat tiga tayangan “Obsesi” yang digunakan sebagai sumber data. Hal ini bertujuan untuk menguji konsistensi peniliaian penulis narasi dari satu episode tayangan ke tayangan berikutnya. Kajian dipusatkan pada narasi yang dibacakan narator. Ekspresi-ekspresi subjek berita yang juga ditayangkan, digunakan sebagai data atau informasi pendukung.
Kajian ini akan bermanfaat, terutama bagi para pelaku jurnalistik sehingga mampu menyajikan berita yang lebih objektif. Bagi pemerhati bahasa, kajian ini melengkapi literatur tentang bahasa jurnalistik yang selama ini memusatkan kajiannya pada teks tulis di media cetak.

PENDAHULUAN

Dua tahun silam, infotainmen yang ditayangkan berbagai televisi swasta hampil selalu meraih rating tertinggi di antara acara-acara telivisi lainnya. Stasiun televisi pun berlomba memproduksi acara jenis ini. Sponsor pun berdatangan, walaupun harga satu spot iklan mencapai delapan belas juta rupiah untuk satu spot iklan berdurasi 30 detik (Nadeak, Setyarini, & Anggraini, 2004). Ini merupakan akibat globalisasi kapitalisme yang menempatkan media sebagai barang dagangan yang harus mendatangkan keuntungan komersial. Akibat lebih jauhnya adalah media informasi menjadi sangat ragawi: hanya dapat dinikmati luarnya, tetapi isi dan manfaatnya sangat dangkal (Yani, 2004). Namun demikian infotainmen tetap diminati, sampai pada puncaknya ketika Nahdatul Ulama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan infotainmen, walaupun fatwa ini kemudian tidak diperhatikan umatnya.

Paper ini mengkaji penilaian pengelola acara infotainmen terhadap subjek berita. Selain dilatarbelakangi oleh fenomena merebaknya acara infotainmen seperti disebutkan di atas, kajian ini juga didasari oleh fakta bahwa banyak artis yang merasa diuntungkan, tetapi banyak pula yang menghujat acara jenis ini. Pada paper ini, penilaian pengelola infotainmen diidentifikasi melalui aspek leksikogramatika yang merealisasikan makna interpersonal, terutama aspek afek dan judgment. pada teks yang dibacakan narator atau pembawa acara.

METODOLOGI

Sumber data untuk kajian paper ini adalah narasi tiga tayangan OBSESI, sebuah acara infotainmen yang ditayangkan Global TV setiap hari. Tiga tayangan ini diambil secara acak. Tayangan pertama direkam pada tanggal 23 Mei 2007, tayangan kedua pada tanggal 28 Mei 2007, dan tayangan ketiga direkam pada tanggal 30 Mei 2007. Rekaman ini kemudian diputar berulang-ulang untuk membuat transkrip yang digunakan untuk mempermudah analisis.

Analisis difokuskan pada narasi yang dibacakan narator, dengan tidak mengabaikan potongan-potongan pernyataan sumber berita. Analisis dilakukan sambil membaca transkrip dan menonton rekaman, sehingga diperoleh hasil yang tidak bias.

KERANGKA TEORI

Untuk mengkaji netralitas, ada atau tidaknya penilaian pengelola acara OBSESI, teori yang dapat digunakan adalah Linguistik Sistemik Fungsional. Dalam tradisi Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), dikenal ada tiga jenis makna: makna ideasional, makna interpersonal, dan makna tekstual (Halliday & Hasan, 1985). Ketiga jenis makna ini kemudian diproyeksikan oleh tiga komponen register, yaitu medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode). Medan memproyeksikan makna ideasional, pelibat memproyeksikan makna interpersonal, dan sarana memproyeksikan makna tekstual.

Aspek Leksikogramatikal Indikator Makna Interpersonal

Seperti dipaparkan di atas, penilaian suatu partisipan terhadap partisipan lain merupakan bagian dari makna interpersonal, yang direalisasikan melalui aspek pelibat (tenor), khusunya afek. Pada level leksikogramatika, aspek pelibat ini direalisasikan melalui sistem MOOD, struktur mood, struktur tema, leksis, struktur teks, dan genre yang digunakan.

TEMUAN & PEMBAHASAN

Secara umum, teks berita mengenai selebriti yang ditayangkan pada acara OBSESI didominasi oleh klausa indikatif, deklaratif. Klausa-klausa indikatif deklaratif ini berfungsi secara kongruen untuk memberikan informasi mengenai selebriti yang sedang dibahas. Dengan kata lain, klausa-klausa yang digunakan didominasi oleh klausa proposisi: memberi informasi. Temuan ini sebenarnya tidak mengejutkan karena jenis acara ini memang bertujuan memberikan informasi kepada pemirsa mengenai beberapa selebriti.

Hanya terdapat satu klausa imperatif. Namun demikian, klausa imperatif ini tidak ditujukan kepada subjek berita, tetapi kepada pemirsa. Selain itu, ia cenderung bersifat retoris, tidak sepenuhnya memerlukan respon. Hal ini pun wajar, karena media yang digunakan adalah media televisi yang dalam hal ini tidak memungkinkan terjadinya dialog antara pemirsa dengan narator atau pembawa acara. Artinya, walaupun perintah atau larangan ini tidak dipenuhi oleh pemirsa, tidak akan terjadi akibat yang berarti bagi pembawa acara atau narator. Satu-satunya klausa imperatif ini justru menyiratkan penilaian positif narator terhadap subjek berita, dalam hal ini Eva Celia dan Sophia Latjuba.

Jenis klausa lain yang juga ditemui adalah klausa indikatif, interogatif. Dari jenis pertanyaan yang diajukan, dapat diidentifikasi bahwa pertanyaan tersebut memiliki beberapa tujuan. Selain bertujuan memancing penilaian pemirsa, pertanyaan itu juga bertujuan memancing rasa ingin tahu pemirsa. Selain itu beberapa pertanyaan diajukan sebagai ungkapan penutup bagian berita mengenai selebriti tersebut.

Analisis sistem MOOD ini belum dapat dijadikan indikator yang cukup memadai untuk menentukan penilaian narator terhadap subjek berita. Dominasi klausa indikatif deklaratif dapat mengindikasikan bahwa narator berada pada posisi netral, tidak memberikan penilaian apa pun. Namun demikian, kehadiran klausa imperatif dan indikatif interogatif – walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan – tidak dapat mendukung indikasi tersebut. Seperti dipaparkan di atas, ada beberapa pertanyaan yang memang disengaja untuk memancing penilaian pemirsa. Selain itu, di akhir beberapa berita, pemirsa diajak untuk memberikan penilaian. Satu-satunya klausa imperatif pun mengundang pemirsa untuk memberi penilaian terhadap subjek berita.

Kecuali pada klausa indikatif interogatif dan klausa imperatif, klausa teks narasi tayangan OBSESI ini didominasi struktur mood yang wajar atau lazim. Artinya, posisi subyek pada sebagian besar klausa yang digunakan mendahului finite. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa narator selalu memusatkan informasi yang disajikannya pada subjek berita. Namun demikian, ada beberapa klausa indikatif deklaratif yang berupa klausa inversi. Artinya, posisi subyek diletakkan setelah finite atau predikator. Klausa seperti ini dimanfaatkan sedemikian rupa untuk memperkuat posisi atau penilaian narator.

Penilaian narator juga tampak dari jenis polaritas klausa-klausa yang digunakannya. walaupun ada penanda polaritas negatif “tak”, klausa tidak selalu bermuatan negatif, karena pemarkah negatif “tak” diikuti oleh “hanya”. Apalagi, pada klausa berikutnya terdapat “juga” yang merangkai kedua klausa sehingga hasil akhir yang didapatkan justru paparan tingginya muatan positif pada klausa tersebut. Artinya, sebetulnya narator ingin menunjukkan bahwa subjek beritanya memiliki lebih dari satu nilai positif.

Ada kalanya, penilaian negatif diberikan oleh narator untuk mengimbangi penilaian positif yang sudah diberikannya. Pada OBSESI 28 Mei 2007, setelah memberikan sisi positif (juga disampaikan dengan klausa berpolar positif), narator memaparkan berita-berita mengenai Ariel Peter Pan dengan beberapa klausa berkutub negatif.

Kedua jenis modalitas (modalisasi dan modulasi) dapat dijumpai pada teks narasi tayangan OBSESI, walaupun tidak terlalu dominan. Begitu pula dengan tingkatannya, beberapa modal bertaraf rendah, tetapi banyak pula yang bertaraf tinggi. Ada dua jenis kecenderungan yang dapat diamati. Pertama, narator akan menggunakan modalisasi probabilitas maupun kebiasaan bertaraf tinggi untuk menegaskan peniliaiannya terhadap subjek berita, baik ketika ia memberikan penilaian negatif maupun penilaian positif.

Semua modalitas tingkat tinggi ini mengandung muatan penilaian positif. Dengan menggunakan modalitas tingkat tinggi ini, narator ingin menyatakan tingkat kepastian informasi yang disajikannya, mengenai subjek berita. Artinya, dalam hal ini tampak usaha narator untuk mempengaruhi pemirsa agar percaya pada informasinya.

Begitu pula dengan penggunaan modulasi obligasi maupun inklinasi yang bertaraf tinggi. Modalitas jenis ini pun digunakan untuk mendukung penilaian positif narator tentang subjek berita yang sedang dibahas.

Yang mengherankan adalah penggunaan modalisasi probabilitas rendah. Seharusnya, karena acara ini adalah tergolong produk berita, penggunaan modalitas jenis ini dapat dihindari. Penggunaan modalisasi probabilitas rendah justru akan mengurangi kualitas berita yang disampaikan, karena modalitas jenis ini menunjukkan narator sendiri belum sepenuhnya percaya pada informasi yang disajikannya. Modalitas jenis ini digunakan juga dalam rangka memberi penilaian positif terhadap sumber berita.

Leksis Atitudinal

Penanda makna interpersonal lain yang dapat mengindikasikan penilaian narator adalah banyaknya leksis atitudinal, yaitu leksis yang mengandung muatan opini atau rasa narator. Berikut adalah beberapa contoh leksis atitudinal yang dijumpai pada narasi tayangan OBSESI.

Setiap episode tayangan OBSESI sarat dengan leksis atitudinal. Hal ini mengindikasikan bahwa narator memang memiliki penilaian tersendiri terhadap subjek berita. Artinya, kehadiran leksis atitudinal ini menunjukkan bahwa penulis naskah narasi memang tidak dalam posisi netral. Seperti dijelaskan pada pembahasan mengenai aspek leksigramatika sebelumnya, tampak bahwa narator cenderung memberi penilaian positif pada subjek beritanya. Dari dua belas berita, penilaian negatif hanya didapati pada berita mengenai konflik Moreno dan Bagus (23 Mei 2007, # 3). Ternyata, temuan-temuan pada aspek leksikogramatika ini didukung oleh temuan banyaknya leksis atitudinal.

Struktur Tema

Aspek lain yang juga dapat menunjukkan penilaian narator adalah struktur tema-rema klausa yang digunakan. Selain tema interpesonal, banyak pula tema tekstual yang didapati pada teks narasi. Namun demikian, tema yang dominan adalah jenis tema topikal bermarkah (marked) maupun tak bermarkah (unmarked).

Tema interpersonal digunakan ketika narator berusaha mendekatkan posisinya dengan pemirsa. Penggunaan tema interpersonal ini wajar mengingat media yang digunakan adalah televisi dan narasi disampaikan secara lisan. Peran tema interpersonal menjadi sangat penting untuk menjaga keharmonisan komunikasi, walaupun dalam hal ini komunikasi yang terjadi adalah jenis komunikasi satu arah. Yang menarik, tema interpersonal ini selalu digunakan pada klausa yang bermodolitas taraf tinggi. Artinya, seperti dikemukakan di atas, klausa yang memiliki tema interpersonal ini memiliki muatau penilaian yang amat tegas terhadap subjek berita. Ini menunjukkan bahwa selain ingin memberikan penilaian positif, narator juga menginginkan pemirsa mempunyai penilaian yang sama. Beberapa tema tekstual yang dijumpai tidak menunjukkan gejala yang luar biasa. Tema ini digunakan sebagai perangkai informasi yang tersebar di seluruh teks. Seperti penggunaan tema interpersonal, penggunaan tema tekstual pun mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk mempertegas penilaian narator terhadap subjek berita.

Tema yang mendominasi teks narasi pada acara OBSESI adalah tema topikal tak bermarkah. Penggunaan tema ini pun sangat strategis untuk menunjukkan penilaian narator. Dengan menempatkan subjek berita sebagai titik tolak informasi, narator ingin menunjukkan atribut-atribut positif yang dimiliki subjek berita. Jenis tema yang juga banyak dijumpai adalah tema topikal bermarkah. Narator pun menggunakannya secara efektif untuk memperjelas posisinya. Lihat beberapa contoh berikut:

Struktur Teks dan Genre

Sebagai jenis teks berita, beberapa narasi acara OBSESI secara kongruen memang berwujud rekon. Namun demikian, banyak pula yang cenderung menggunakan jenis teks eksposisi atau bahkan diskusi. Yang menarik, penggunaan ketiga jenis genre ini semuanya dilakukan dalam rangka menunjukkan penilaian penulis. Genre rekon, misalnya, semestinya hanya memaparkan urutan peristiwa yang terjadi pada subjek berita atau partisipan utama pada teks itu. Namun demikian, sering dijumpai peristiwa yang disajikan adalah ungkapan komentar atau penilaian mengenai subjek berita tersebut. Genre diskusi digunakan untuk menyeimbangkan penilaian narator terhadap subjek berita. Artinya, selain menyajikan informasi positif, narator juga memberikan informasi negatif mengenai subjek berita. Sementara itu, genre eksposisi jelas digunakan untuk menyajikan penilaian narator.

SIMPULAN

Dari paparan analisis mengenai aspek leksikogramatika dan struktur teks serta genre yang digunakan, dapat disimpulkan bahwa narasi acara OBSESI cenderung tidak netral. Dari dua belas teks narasi yang dianalisis, hanya satu yang berusaha menyampaikan informasi secara objektif; yaitu dengan menyampaikan informasi dari kedua sisi: positif dan negatif. Narasi yang menyampaikan informasi dari dua sisi ini menggunakan genre diskusi walaupun pada awalnya tampak bahwa narator mendukung salah satu pihak.

Sementara itu, sebelas teks narasi yang lain memiliki posisi atau penilaian yang tegas mengenai subjek berita. Sepuluh teks narasi berpenilaian positif, dan satu teks mempunyai penilaian negatif. Kecenderungan untuk memberi penilaian positif ini wajar karena teks ini merupakan narasi acara infotainmen yang banyak mengulas profil selebriti. Dilihat dari aspek jurnalistik, kecenderungan seperti ini harus diwaspadai. Terlebih ketika memberitakan konflik dua pihak seperti kasus Moreno dan Bagus. Semua penilaian positif berwujud sanjungan, kecuali berita tentang Naysilla Mirdad yang berisi ungkapan simpati.

REFERENSI
Halliday, M. A. K. (1985). An introduction to functional grammar.London: Edward Arnold.
Halliday, M. A. K. (1985). Spoken and written language.Burwood: Deakin University Press.
Halliday, M. A. K., & Hasan, R. (1985). Language, context, and text: Aspects of language in social-semiotic perspective. Burwood: Deakin University Press.
Kusumaningrat, H., & Kusumaningrat, P. (2005). Jurnalistik: Teori & praktik.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Martin, J. R. (1992). English text. Amsterdam: John Benjamins B.V.
Martin, J. R., & White, P. R. R. (2005). The language of evaluation: Appraisal in english.New York: Palgrave Macmillan.
Nadeak, C., Setyarini, L., & Anggraini, R. (2004, 5 Maret). Ketok pintu sampai akademi. Gatra, 5, 15-17.
Santosa, R. (2003). Semiotika sosial: Pandangan terhadap bahasa.Surabaya: JP Press dan Pustaka Eureka.
Suryandari, S. (2005, 30 Agustus). Jurnalisme infotainmen abaikan etika jurnalistik. Media Indonesia, p. 16.
Yani, B. (2004, 6 Oktober). Dumbing down tv. Republika, p. 12.

2 Responses to “Penilaian Penulis Narasi Program Infotainmen terhadap Subjek Berita

  • Saya tertarik dengan penilaian emosi dalam teks ini. Tapi, saya penasaran dengan mengapa anda mengkajinya dalam ruang lingkup Sistemik Funsional; mengapa tidak dengan teori William Chafe atau ahli-ahli lain?
    Lalu, setahu saya, Functional Grammar-nya Halliday sudah menyinggung mengenai afek ini dalam bukunya Introduction to Functional Grammar. Kenapa perlu dikembangkan menjadi teori tersendiri?
    Terakhir, apakah anda punya e-book mengenai teori appraisal ini?

  • @Mr.Yusuf: Anda benar. Halliday adalah pioneer Systemic Functional Linguistics. Bukunya (dengan Hasan) yang terbit 1989 di Australia sangat banyak digunakan banyak orang. Sekarang SFL sudah banyak berkembang, termasuk mencakup tentang appraisal yang dipelopori Peter White dan Martin. Sebelum baca White & Martin, sebaiknya kita baca David Rose (Working with Discourse). Sayang sekali, saya belum nemu e-books tentang SFL.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar