Agus D. Priyanto

Agus D. Priyanto

Agus D. Priyanto RSS Feed
 
 
 
 

Seandainya Binatang Punya Akal…

Maha Besar Allah, yang memberikan akal hanya kepada manusia. Jika saja binatang dibekali akal, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan mereka perbuat sekarang.

Selama 100 hari pemerintahan etape kedua SBY, binatang kerap kali ‘dimunculkan’ dalam ruang sidang. Kita tentu tidak akan lupa dengan bentrok antara CICAK dan BUAYA, yang kemudian disusul GURITA, sampai akhirnya KERBAU pun ikut berperan serta dalam membuat SBY dan koleganya kalang-kabut. Saya mencatat ada dua hal yang patut dipelajari dari munculnya empat binatang di kancah politik Indonesia.

Pertama, ternyata manusia – dengan akalnya – sering membuat stereotype, bahkan untuk makhluk yang bukan dari dunianya. Lihat saja. CICAK dimaknai sebagai seekor binatang kecil tak berguna, dan dipastikan akan kalah dari BUAYA yang dipotret sebagai binatang buas yang garang, yang bisa memangsa siapapun di depannya. GURITA pun dimunculkan untuk mewakili sifat rakus dan tamak. Terakhir, KERBAU dianggap sebagai makhluk yang gembrot, lambat, dan bodoh. Luar biasa. Keempat binatang ini diposisikan seolah-olah tidak memiliki nilai positif sedikitpun.

Sekecil apapun, CICAK selalu memiliki peran dalam menjaga ekosistem kehidupan manusia. Bersama binatang lain, ia memangsa serangga yang jika populasinya terlalu banyak pasti akan mengganggu kehidupan manusia. Bahkan dalam kepercayaan Hindu, CICAK dipercaya sebagai manifestasi Dewi Saraswati, dewi pelindung komunikasi lisan dan tulisan. Sebuas apapun, BUAYA juga memberi manfaat yang tidak kecil untuk manusia. Sampai sekarang, saya belum mampu membelikan istri saya tas hitam dari kulit buaya. BUAYA jelas memberi manfaat untuk kita, manusia. GURITA pun demikian. Binatang dengan delapan tangan ini bukan tidak mempunyai manfaat. Di Jepang, ia merupakan bahan favorit untuk membuat sushi. Binatang ini ternyata mengandung kalori tinggi, vitamin B-3, Vitamin B-12, dan fosfor. Terakhir, semua pasti paham bahwa KERBAU adalah binatang pekerja keras. Dia-lah yang dulu rajin membantu para petani padi membajak sawah, sejak matahari belum terbit sampai terbenam di ufuk barat. Bahkan kotorannya menjadi pupuk bernilai tinggi.

Pendeknya, kita harus ingat bahwa TUHAN menciptakan makhluknya bukan tanpa tujuan. Tak satupun makhluk-NYA di dunia ini yang hidup sia-sia, tanpa memberi manfaat.

Kedua, saluran komunikasi antar elit politik kita sepertinya sudah banyak yang buntu, sampai-sampai personifikasi binatang pun harus dilakukan. Seandainya para pimpinan negeri ini dapat duduk bersama, melepaskan sekat egoisme individu maupun partai; niscaya jalan keluar dari masalah-masalah sepelik apapun akan tampak benderang. Mereka adalah tokoh-tokoh cerdas. Tetapi, kecerdasan mereka seolah tertutup oleh keinginan untuk membentengi diri dan menjatuhkan lawan politik. Dari barbagai tayangan talk-show dan politainment di berbagai stasiun TV, kita melihat betapa mereka menggunakan kemampuan retorikanya untuk saling menjatuhkan, bukan mencari jalan keluar dari permasalahan yang ditemukan. Berbagai cara pun dilakukan: dari umpatan hingga ancaman. Luar biasa. Kalau saja kaum binatang dapat menikmati talk-show dan politainment di TV, mungkin mereka akan tersenyum, mencibir tingkah laku kita.

Apa sudah saatnya manusia belajar dari binatang? Lihat bagaimana lebah akan bersama-sama menyerang, jika mereka diganggu. Lihat bagaimana semut selalu bertegur sapa dengan sesamanya bila bertemu, dan selalu meninggalkan jejak supaya temannya tahu tempat mencari makan.

Peer Learning thru Wiki & Discussion Board

As the socio-constructivists believe, better learning process occurs when expert learners help the novice ones to accomplish a task. The advance of ICT has provided the opportunities for learning to take place not only in the classrooms but also through computer-mediated communication (CMC). The technology has also enabled students to learn not only from their teachers, but also their peers. As Ohta (2001) maintains, true peers have different strengths and weaknesses. The peer-learning will mutually reduce the weaknesses and improve the strengths.

This paper shares and discusses an experience on how students learn from their peers through CMC. The discussion is based on the findings of a small research done to a group of 40 university students having a project with wiki and online discussion forum. In this project, the students are given access to create and modify a wiki, a collaborative website whose content can be edited by anyone who has access to it. The topic of the wiki is general linguistics. In addition, the discussion will also cover the negotiations of meaning occurring in an online discussion forum. In this non-synchronous discussion, students share their success and difficulties in writing an essay. Both the wiki and the online discussion forum are hosted for free at http://www.pbwiki.com/ and http://www.quicktopic.com/. These two channels of learning are made in addition to the weekly classroom sessions.
Both the benefits and the potential problems will be elaborated so that language or linguistic teachers can anticipate and plan for better projects.

The full paper is available here.

Maximizing SFL Contribution to ELT in Indonesia

Since the use of Competency-Based Curriculum, Systemic Functional Linguistics (SFL) has gained its reputable position in the context of English Language Teaching in Indonesia. The syllabus for English lesson at the levels of Junior Senior High School and Senior High School is now adopting the concept originated from this theory. The adoption, however, is still partial in terms that the materials are designed in such a way to meet the features of the genres. Moreover, the genre-based materials are only for the reading and writing skills only.

This paper discusses the results of a critical review on two English course books approved by Pusat Perbukuan (Pusbuk – Depdiknas) as the core materials for Year VII students of Senior High School. The discussion also covers how the books can be revised so that learners are aware of the context of culture and context of situation where they use the language. To discuss this, the importance of introducing the ideational, interpersonal, and textual meaning of a text is also elaborated. In addition, how the English grammar should be incorporated to the materials is also offered. This paper will benefit English teachers as well as English learning material developers.

Key word: context of situation, field, tenor, mode, genre-based approach, scaffolding

The full paper is available here.